|
Meluasnya wacana kepemimpinan muda sejak akhir 2007 tampak pada respons sejumlah partai politik, seperti PDI Perjuangan yang menetapkan alokasi 65 persen bagi kaum muda untuk menjadi calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2009. Partai lain, seperti Golkar: Partai Keadilan Sejahtera, termasuk partai baru, Hanura, pun tak lamban menyikapi tendensi dan tren politik tersebut.
Wacana kepemimpinan muda bukan hanya sebuah hal yang baru terjadi, negara-negara di Eropa telah lebih dahulu mewujudkan wacana ini menjadi sebuah kenyataan. munculnya Barack Obama sebagai capres dari Partai Demokrat di AS yang menyisihkan Hillary Clinton menjadi salah satu pemicu berkembangnya kembali wacana pemimpin muda di Indonesia. Ramai-ramai para politikus muda mencari histori dari Barack Obama dan bagaimana dia bisa menjadikan dirinya sebagai figur yang muncul untuk membawa harapan baru bagi AS pada khususnya dan dunia pada umumnya.
Hari ini, ketika bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan, kaum muda dituntut untuk dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut. sejarah telah mencatat banyak hal tentang bagaimana anak muda dapat merubah kondisi bangsa.Dimulai pada Kongres Pemuda Indonesia 79 tahun yang lalu, kemudian peristiwa Rengasdengklok pada tahun 1945, peristiwa 30 September 1965 dan reformasi 1998 menjadi investasi kaum muda untuk dapat membuktikan kepada orang banyak bagaimana mereka dapat memberikan harapan-harapan bagi bangsa ini.
masih jelas dalam ingatan kita bagaimana seorang founding father bangsa ini (Soekarno) pernah mengatakan "berikan saya 10 orang anak muda, maka kami akan mengguncangkan dunia dan memindahkan Gunung Mahameru". secara metamorfosis dapat dikatakan betapa krusial dan strategisnya aspek kaum muda.
Menjelang PEMILU 2009 yang sudah diambang pintu akankah wacana kepemimpinan muda ini dapat terwujud?ada beberapa hambatan untuk mewujudkan wacana kepimpinan muda menjadi kenyataan, pertama adalah pemetaan ideologis di Indonesia masih kabur, Kita tidak bisa memilah seluruh gerakan politik, baik di partai politik maupun di luar partai politik, berdasarkan mainstream ideologis. Dulu pada 1945-1965 memang, menurut analisis dan catatan Feith & Castles (1970), ada lima aliran politik yang menonjol di Indonesia dan memberikan karakter pada semua partai politik pada masa itu, yakni nasionalisme radikal, sosialisme, komunisme, Islam, dan tradisionalisme Jawa. Sesudah fusi 1973 oleh Soeharto, partai politik hanya dibagi atas dua kelompok yakni sekuler-nasionalis yang diwakili Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan religius-nasionalis yang diwakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Kedua adalah sistem dan kultur politik yang patriarkat. Pada level sistem, hal ini ditandai oleh dominasi kaum tua dalam struktur pemerintahan dan dominasi kaum tua dalam berbagai pemilu atau pilkada belakangan. Fakta seperti ini lebih merupakan produk dari paradigma otoritarian, yang memenjarakan politik kita selama kurang lebih 32 tahun.
hal ketiga yang menjadi hambatan bagi munculnya kepemimpinan muda di pemilu 2009 terkait dengan kaum muda itu sendiri. Pertama , definisi "kaum muda" masih sumir. Kedua , konsep kepemimpinan muda belum mengkristal sampai pada suatu rumusan visi-misi dan paradigma pembangunan yang siap diterapkan. Ketiga , unitas atau kesatuan di kalangan kaum muda masih longgar karena tidak adanya satu kekuatan utama yang menyatukan seluruh kaum muda yang tersebar di berbagai bidang dan di berbagai wadah politik.
Maka dengan adanya hambatan-hambatan tersebut maka ada pekerjaan rumah yang harus terlebih dahulu untuk dapat mewujudkan wacana kepemimpinan muda di Indonesia dapat menjadi realitas. Mudah-mudahan kaum muda bangsa ini dapat bersatu dan dapat menanggalkan terlebih dahulu background-backround ideologoi demi satu tujuan tesebut.
hidup kaum muda, jayalah Indonesia!!!
by : M. Riduan Dalimunthe
MENTRI DALAM NEGERI BEM UNPAS 08-09
|