|
Pada umumnya sudah lumrah jika setiap insan penerus bangsa mendapatkan pendidikan yang layak dan merata. Tapi pada kenyataannya sangat mengkhawatirkan hal itu dapat dilihat dari akibatnya tingkat kriminal di usia dini, sampai pada tingkat pengangguran yang terus meningkat.
Pendidikan pun kian tidak merata, dapat dilihat dari pendidikan yang dari masa orde baru sampai masa reformasi sekarang ini pendidikan masih dititik beratkan pada daerah pulau jawa saja, mengapa? hal ini mungkin dikarenakan tingkat perkembangan atau pembangunan yang kurang signifikan. Otonomi daerah yang diharapkan dapat menumbuh kembangkan daerah terutama disektor pendidikan kurang terasa.
Bahkan saat kami (Bem Unpas) melakukan kunjungan di DEPDIKNAS, dapat dirasakan bahwa otonomi menghambat pendidikan. Dari hasil dialog kami dapat menyimpulkan bahwa dari otonomi tersebut kesiapan daerah untuk mengelola sendiri pendidikannya terutama pada sistem manajemen keuangan masih belum siap sehingga masih keteteran dan tidak maksimal. "Sistem kontroling juga masih terhambat", kata seorang dari bagian humas. Pada hal dengan anggaran 20% dari dana APBD untuk pendidikan diharapkan pendidikan di indonesia menjadi lebih baik.
Ada juga realita yang kami dapat dari seorang pakar pen didikan pak Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp., M.Si selaku Pembantu Rektor I Universitas Pasundan bahwa dilahin pihak Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk pendidikan tinggi di indonesia (17,26%) jauh tertinggal dibandingkan dengan negara- negara tetangga, seperti china 20,3%, Filipina 28,1%, Malaysia 32,5%, Thailand 42,7%, dan korea 91%. Jika dapat kita bayangkan SDM (Sumber Daya Manusia) 5 tahun kedepan di negara seperti korea akan sangat luar biasa. bisa- bisa SDM mereka masuk ke indonesia dan kita hanya bisa gigit jari melihat saja.
Semoga tingkat kesadaran kita akan pendidikan aka semakin meningkat. Bapak- bapak yang di sana minta kesadarannya juga ya........
|